INSTRUMEN PENILAIAN DENGAN TEKNIK NON TES (2)

A.PENDAHULUAN

Usaha peningkatan pendidikan bisa ditempuh dengan peningkatan kualitas pembelajaran dan sistem evaluasi yang baik. Keduanya saling berkaitan dimana sistem pembelajaran yang baik akan menghasilkan kualitas pendidikan yang baik. Selanjutnya sistem evaluasi yang baik akan mendorong guru untuk menentukan strategi mengajar yang baik dan memotivasi siswa untuk belajar yang lebih baik.

Oleh karena itu, di dalam pembelajaran dibutuhkan guru yang tidak hanya mengajar dengan baik, namun mampu melakukan evaluasi dengan baik. Kegiatan evaluasi sebagai bagian dari program pembelajaran perlu lebih dioptimalkan. Evaluasi tidak hanya bertumpu pada penilaian hasil belajar, namun perlu penilaian terhadap input, output dan kualitas proses pembelajaran itu sendiri. Oleh karena itu pengetahuan akan tingkat kemampuan dan perkembangan peserta didik menjadi penting untuk diketahui oleh tenaga pengajar. Untuk mengetahui itu semua bisa dilakukan melalui tes ataupun non tes.

Hasil belajar dari proses belajar tidak hanya dinilai oleh test, tetapi juga harus dinilai oleh alat-alat non test atau bukan test. Tehnik ini berguna untuk mengukur keberhasilan siswa dalam proses belajar-mengajar yang tidak dapat diukur dengan alat tes. Penggunaan tehnik ini dalam evaluasi pembelajaran terutama karena banyak aspek kemampuan siswa yang sulit diukur secara kuantitatif dan mencakup objektifitas. Sasaran teknik ini adalah perbuatan, ucapan, kegiatan, pengalaman,tingkah laku, riwayat hidup, dan lain-lain. Menurut Hasyim (1997;9) ”penilaian non test adalah penilaian yang mengukur kemampuan siswa-siswa secara langsung dengan tugas-tugas yang riil”.Adapun menurut Sudjana (1986;67), kelebihan non test dari test adalah sifatnya lebih komprehensif, artinya dapat digunakan untuk menilai berbagai aspek dari individu sehingga tidak hanya untuk menilai aspek kognitif, tetapi juga aspek efektif dan psikomotorik, yang dinilai saat proses pelajaran berlangsung.

Saat ini penggunaan nontes untuk menilai hasil dan proses belajar masih sangat terbatas jika dibandingkan dengan penggunaan alat melalui tes dalam menilai hasil dan proses belajar. Padahal ada aspek-aspek yang tidak bisa terukur secara “realtime” dengan hanya menggunakan test, seperti pada mata pelajaran matematika. Pada tes siswa dapat menjawab dengan tepat saat diberi pertanyaan tentang langkah-langkah melukis sudut menggunakan jangka tanpa busur, tetapi waktu diminta melukis secara langsung di kertas atau papan tulis ternyata cara menggunakan jangka saja mereka tidak bisa. Jadi dengan menggunakan nontes guru bisa menilai siswa secara komprehensif, bukan hanya dari aspek kognitif saja, tapi juga afektif dan psikomotornya.

Berdasarkan permasalahan-permasalahan yang telah disebutkan diatas, maka diperlukan suatu langkah-langkah untuk penyusunan dan pengembangan instrument nontes. Hal ini juga dapat digunakan untuk memperoleh tes yang valid, sehingga hasil ukurnya dapat mencerminkan secara tepat hasil belajar atau prestasi belajar yang dicapai oleh masing-masing individu peserta tes setelah selesai mengikuti kegiatan pembelajaran.

B. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang diatas, maka  yang menjadi rumusan masalah  adalah

1.      Apa saja jenis-jenis instrument teknik non tes itu?

2.      Bagaimana cara pengembangan instrumen teknik non tes?

C. TUJUAN PENULISAN

Berdasarkan rumusan masalah yang diajukan, maka penulisan makalah ini memiliki tujuan sebagai berikut:

1. Menyajikan jenis-jenis teknik non tes

2.Menyusun cara pengembangan instrumen teknik nontes

BAB II

PEMBAHASAN

A.Pengertian

Teknik  nontes  merupakan  teknik  penilaian  untuk  memperoleh  gambaran  terutama mengenai  karakteristik,  sikap,  atau  kepribadian.  Selama  ini  teknik  nontes  kurang digunakan    dibandingkan  teknis  tes.  Dalam  proses  pembelajaran  pada  umumnya kegiatan   penilaian mengutamakan teknik tes. Hal ini dikarenakan lebih berperannya aspek pengetahuan dan keterampilan dalam pengambilan keputusan yang dilakukan guru   pada   saat   menentukan   pencapaian   hasil   belajar   siswa.      Seiring   dengan berlakunya  kurikulum  tingkat  satuan  pendidikan  (KTSP)  yang  didasarkan  pada standar  kompetensi  dan  kompetensi  dasar  maka  teknik  penilaian  harus  disesuaikan dengan hal-hal sebagai berikut.

a.   kompetensi yang diukur;

b.   aspek yang akan diukur (pengetahuan, keterampilan atau sikap);

c.   kemampuan siswa yang akan diukur;

d.   sarana dan prasarana yang ada.

B. JENIS-JENIS TEKNIK NON TES

1. Pengamatan atau observasi

Pengamatan  atau  observasi  sebagai alat evaluasi banyak digunakan untuk menilai tingkah laku individu atau proses terjadinya suatu kegiatan yang dapat diamati. Observasi untuk tujuan ini pencatatannya lebih sukar daripada mencatat jawaban yang diberikan peserta tes terhadap pertanyaan yang diberikan dalam suatu tes, karena respon observasi adalah tingkah laku yang prosesnya berlangsung cepat. Contoh observasi utuk tujuan evaluasi adalah observasi untuk menilai atau mengukur hasil belajar melalui pengamatan tingkah laku siswa pada saat guru mengajar.

a. Cara dan Tujuan Observasi

Menurut cara dan tujuannya observasi dapat dibedakan menjadi 3 macam:

1) Observasi partisipatif (participant observation) dan nonpartisipatif (non-participant observation)More

Observasi partisipatif adalah observasi dimana orang yang mengobservasi (observer) ikut  ambil bagian alam kegiatan yang dilakukan oleh objek yang diamatinya. Sedangkan  observasi nonpartisipatif, observer tidak mengambil bagian dalam kegiatan yang dilakukan oleh objeknya. Atau evaluator berada “diluar garis” seolah-olah sebagai penonton belaka. 2) Observasi sistematis dan observasi nonsitematis

Observasi sistematis adalah observasi yang sebelum dilakukan, observer sudah mengatur  struktur yang berisi kategori atau kriteria, masalah yang akan diamati. Sedangkan observasi nonsistematis yaitu apabila dalam pengamatan tidak terdapat stuktur ketegori yang akan diamati. Contoh observasi sistematis misalnya guru yang sedang mngamati anak-anak menanam bunga. Disini sebelum guru melaksanakan observasi sudah membuat kategori-kategori yang akan diamati, misalnya tentang: kerajinan, kesiapan, kedisiplinan, ketangkasan, kerjasama dan kebersihan. Kemudian ketegori-kategori itu dicocokkan dengan tingkah laku murid dalam menanam bunga.

3) Observasi Experimental dan observasi nonexperimental

Observasi eksperimental adalah observasi yang dilakukan secara nonpartisipatif tetapi sistematis. Tujuannya untuk mengetahui atau melihat perubahan, gejala-gejala sebagai  akibat dari situasi yang sengaja diadakan. Sedangkan observasi noneksperimental adalah observasi yang dilakukan dalam situasi yang wajar. Pada observasi eksperimental, tingkah laku diharapkan muncul karena peserta didik dikenai perlakuan, maka observer perlu persiapan yang benar-benar matang, sedangkan pada observasi noneksperimental pelaksanaannya lebih sederhana.

Sebagai alat evaluasi, observasi digunakan untuk:

1) Menilai minat, sikap dan nilai yang terkandung dalam diri siswa.

2) Melihat proses kegiatan yang dilakukan oleh siswa maupun kelompok.

3) Suatu tes essay / obyektif tidak dapat menunjukan seberapa kemampuan siswa dapat menjelaskan pendapatnya secara lisan, dalam bekerja kelompok dan juga kemampuan siswa dalam mengumpulkan data

b. Sifat Observasi

Observasi yang baik dan tepat harus memilki sifat-sifat tertentu yaitu:

1. Hanya dilakukan sesuai dengan tujuan pengajaran

2. Direncanakan secara sistematis

3. Hasilnya dicatat dan diolah sesuai dengan tujuan

4. Dapat diperika validitas, rehabilitas dan ketelitiaanya

c. Kelebihan dan Kelemahan Observasi

Observasi sebagai alat penilain nontes, mempunyai beberapa kelebihan, antara lain:

1.    Observasi dapat memperoleh data sebagai aspek tingkah laku anak.

2.    Dalam observasi memungkinkan pencatatan yang serempak dengan terjadinya suatu gejala atau kejadian yang penting.

3.    Observasi dapat dilakukan untuk melengkapi dan mencek data yang diperoleh dari tehnik lain, misalnya wawancara atau angket.

4.     Observer tidak perlu mengunakan bahasa untuk berkomunikasi dengan objek yang diamati, kalaupun menggunakan, maka hanya sebentar dan tidak langsung memegang peran.

Selain keuntungan diatas, observer juga mempunyai beberapa kelemahan, antara lain:

1.    Observer tiidak dapat mengungkapkan kehidupan pribadi seseorag yang sangat dirahasiakan. Apabila seseorang yang diamati sengaja merahasiakan kehidupannya maka tidak dapat diketahui dengan observasi. Misalnya mengamati anak yang menyayi, dia kelihatan gembira, lincah . Tetapi belum tentu hatinya gembira, dan bahagia. Mungkin sebaliknya, dia sedih dan duka tetapi dirahasiakan.

2.    Apabila si objek yang diobservasikan mengetahui kalau sedang diobservasi maka tidak mustahil tingkah lakunya dibuat-buat, agar observer merasa senang.

3.    Observer banyak tergantung kepada faktor-faktor yang tidak dapat dapat dikontrol sebelumya.

d. Langkah-langkah menyusun observasi:

1.                              Merumuskan tujuan

2.                              Merumuskan kegiatan

3.                              Menyusun langkah-langkah

4.                              Menyusun kisi-kisi

5.                              Menyusun panduan observasi

6.                              Menyusun alat penilaian

Aspek  pengamatan  pada  pelajaran  Matematika  misalnya ketelitian  dan  kecepatan kerja.

Alat/instrumen untuk penilaian melalui pengamatan/observasi dapat menggunakan skala sikap dan atau angket (kuesioner)

Skala sikap

Skala sikap adalah alat penilaian hasil belajar yang berupa sejumlah pernyataan sikap tentang  sesuatu  yang  jawabannya  dinyatakan  secara  berskala,  misalnya  skala  tiga, empat atau  lima.

Pengembangan skala sikap dapat mengikuti langkah-langkah sebagai berikut.

a)    Menentukan  objek  sikap  yang  akan  dikembangkan  skalanya  misalnya  sikap terhadap kebersihan.

b)    Memilih  dan  membuat  daftar  dari  konsep  dan  kata  sifat  yang  relevan  dengan objek penilaian sikap. Misalnya : menarik, menyenangkan, mudah dipelajari dan sebagainya.

c)    Memilih kata sifat yang tepat dan akan digunakan dalam skala. d)    Menentukan skala dan penskoran.

Silakan download MAKALAH lengkap klik disini

 

 

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s